Minta Alexandria
Asking Alexandria
Pertama kali mendengar dari seseorang yang menyebut namanya “Bramantya Greenwood”. Kaget saja, sejak kapan dia berubah dari Thomas Matthew Delonge kebanggaanya.
Melihat tampilannyapun, sepintas lebih mirip boyband, ya mungkin karena model rambut dan wajah mereka yang hampir sama dengan kualitas orang korea, tapi untuk suara lebih panas dari suara yang dikeluarkan Johhny Macbee ataupun Corey Taylor. Tapi masalah kualitas penjiwaan tetap idiot bermata biru itu yang nomer 1.
Lagu yang terdengar pertama atas rekomendasinya adalah “Final Episode”, wow..metal, ini pasti dari Amerika, satu bangsa dengan As Blood Ruins Black. Meskipun dataran chelsea sudah punya Bullet for my Valentine, tapi dari telinga lebih cocok dari daratan Nirvana atau Metallica. Tapi siapa kira leadernya malah bekas “imigran” Dubai, namanya Ben Bruce, namanya mirip dengan pengacara kondang dari negeri Kurt Cobain, tapi yang ini bersenjatakan “wow”…sebuah jenis gitar yang jarang dipakai gitaris metal, bukan “flying V” ataupun “Schuster” tapi sejenis gitar klasik dengan inisial “ESP”. Cuk!!!
Ada sisi perbedaan, jika As Blood sering bermain dengan akustik dan Trivium/BFMV bermain dengan tiping dan lead yang wah dan cepat, Asking Alexandria malah sering bermain dengan DJ dan turntable untuk mengisi kekosongan musiknya, seperti yang muncul pada lagu “A candlilite dinner with Inamorta” dan “Final Episode”, ini sangat menarik. Jadi serasa mereka selalu berduet dengan Lady Gaga ataupun Britney Spears. Tapi setelah dipikir, tanpa membawa grup dari tanah musik “rap”, muncuk sebuah persamaan dengan asumsi isotropi :
Asking Alexandria = Bullet For My Valentine + Radiohead
Dimana sudah jelas dimana koefisien pertama muncul dan Radiohead sebagai “efek” dai kehadiran turntable techno.
Entah kebetulan, bertepatan dengan ulang tahun seseorang..17mei 2011, mereka datang ke negeri Ian Antono.
WELCOME’N INDONESIA bruce..

For me, for you, the fallen, save her
For us, for me, for you, save her







